Pemuda ‘Gila’ Itu Namanya Bram

Ia sarjana teknik mesin. Asal Purwakarta, Jawa Barat.
Terpanggil membantu anak pedalaman Papua membaca dan menulis.

 

Bram Martin Stephanus, begitu nama lengkapnya. Tidak seperti pemuda kebanyakan, pria 28 tahun ini menghabiskan sebagian besar waktunya membantu anak Papua belajar membaca. Tak pelak, mendidik bocah di Kabupaten Pegunungan Bintang, ia menggunakan wahana batu di tepi sungai.

Bram menyelesaikan studi teknik mesin di salah satu universitas swasta di Kota Surabaya pada 2008. “Selama di Jakarta, Tuhan mengingatkan terus. Melalui Firman Tuhan, semua bercerita tentang Papua. Tiap saya baca Firman Tuhan, banyak hal saya dapatkan tentang Papua,” kata Bram.

Bram pun bergumul dalam doa, “saya tidak tahu bagaimana caranya ke Papua. Saya tidak punya saudara, tidak punya teman, tidak punya akses. Saya bingung harus bagaimana.”

Ternyata Tuhan mempertemukan Bram dengan seorang dokter yang sedang menjalani masa PTT di Pegunungan Bintang, Papua. Mereka bertemu di Jakarta. “Namanya dokter Doni. Saya bilang: Don, saya punya hati untuk Papua. Dia dengan gampangnya bilang: Ya sudah, kalau begitu ikut saya saja, mumpung saya masih di Papua.”

Berjuang Mendapat Restu Keluarga

Rencana ke Papua tidak semulus dibayangkan. Awalnya, ia harus berdebat hebat dengan keluarga. Kakaknya mempertanyakan latar belakang pendidikan Bram yang berbeda dengan panggilan misinya, sementara itu sang Mama menyarankan agar Bram bekerja sesuai disiplin ilmu yang sudah dipelajarinya.  

Bram pun membuat perjanjian dengan keluarga. Setiap tahun, Bram akan pulang untuk membantu usaha kue Mamanya.

Akhirnya, keluarga pun mengizinkan Bram berangkat ke Papua, dengan harapan setahun kemudian ia akan kembali ke Purwakarta dan semoga tidak akan kembali ke Papua lagi.

Setelah mendapatkan ijin, Bram terbang ke Papua dengan bermodalkan uang dua juta rupiah, yang hanya cukup untuk membeli tiket pesawat Jakarta-Jayapura.

Tidak ada yang mengutus Bram. Tidak ada wadah. “Saya bilang sama Tuhan saya hanya punya uang dua juta. Ini sama sekali nggak cukup. Tapi saya tahu Tuhan yang punya semuanya.”

Mujizat terjadi, sebelum berangkat, ada orang yang membayar harga tiketnya. Ternyata orang itu adalah mamanya sendiri yang tidak tega melihat Bram ke Papua hanya membawa uang sebanyak itu.

Agustus 2009, Bram bersama dr. Doni tiba di Distrik Aboy, Pegunungan Bintang. Di sana sudah ada gedung sekolah, murid-murid yang siap diajar, bahkan telah tersedia rumah guru. Sayang tidak ada gurunya.

Dr. Doni meminta Bram mengajar di Aboy, tapi Bram tidak merasakan damai sejahtera. Ia lalu memutuskan untuk ikut pelayanan kesehatan keliling bersama dokter Doni. Suatu hari mereka tiba di Kampung Pipal. Perjalanan yang ditempuh cukup sulit, memakan waktu seharian.  

Bram pun menyampaikan keinginannya untuk mengajar di Pipal. “Bram kamu gila kalau mau di Pipal. Tidak ada transportasi, masyarakat disana nggak bisa bahasa Indonesia. Disana tidak ada sekolah, tidak ada rumah guru. Belum lagi risiko sakit kena malaria, siapa yang akan tolong kamu?” itulah reaksi dari dr. Doni. Tetapi Bram sudah kuat hati.

Mulai Jadi Guru

Tiba di Kampung Pipal, warga menyambut Bram dengan sukacita. Mereka butuh guru, dokter, dan pendeta. Selama ini, belum pernah ada orang luar yang tinggal di Pipal. Bram pun mulai mengajar anak-anak di sana. Ada tantangan tersendiri dalam mengajar, karena rata-rata dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. “Kami belajar pakai alat seadanya, jadi dimanapun berada, kami belajar. Di sungai waktu tunggu ikan, saya ajarin. Ada batu kapur disana, bisa dipakai untuk menulis.” 

Masalah lain, minimnya akses layanan kesehatan. Di Pipal tidak ada mantri apalagi dokter. Ada beberapa peristiwa dimana Bram diminta mengobati penduduk yang sakit. Berbekal pengalaman mengikuti dr. Doni, Bram mencoba membantu mengatasi sakit beberapa penduduk.

Melayani di daerah pedalaman terhadang rupa-rupa resiko. “Tahun pertama, saya hampir tiap bulan kena malaria. Pernah di suatu malam saya sudah ga tahan, saya lalu berdoa: Tuhan, kalau Tuhan mau sembuhkan saya, sembuhkan saya dengan cepat. Tapi kalau tidak, cabut saja nyawa saya sekarang.”

Keesokan paginya, Bram kembali sehat dan dapat melakukan aktivitas seperti biasa.  

Selain melayani kesehatan warga, Bram mengajarkan Firman Tuhan kepada penduduk kampung dengan menceritakan dan memutarkan video kisah-kisah dari Alkitab. “Sekarang di sana anak-anak sudah tahu, Nabi Nuh itu seperti apa, cirinya seperti apa, oh ada perahunya. Yang bawa tongkat itu Nabi Musa. Oh ini Adam dan Hawa. Mereka sudah bisa tahu, walaupun mereka belum bisa baca,” ucapnya.

Suatu hari, penduduk desa menyampaikan keinginan untuk mempunyai lapangan terbang. “Kalau ada lapangan terbang, kami percaya suatu saat nanti bisa ada sekolah, puskesmas, dan gereja.”

Melalui pergumulan doa, Bram setuju bekerja bersama masyarakat Ketemban membuka hutan dengan menggunakan alat sederhana kampak dan linggis. Pekerjaan sudah separuh jalan, ketika Bram berkonsultasi dengan seorang pilot, “Bram lapangan ini nggak bisa dikerjakan, karena kemiringannya diukur dari google earth, dari satelit, lebih dari 20 derajat. Syarat maksimal agar pesawat bisa mendarat adalah 15 derajat.”

Bram ngotot meminta agar pilot tersebut mau datang ke Pipal dan melakukan pengukuran langsung. Pilot itupun bersedia asalkan Bram dapat menyediakan helikopter. Biaya sewa helikopter US$ 15/menit, minimal butuh 5 jam untuk pakai helikopter ke Pipal. Total kebutuhan US$ 4.500 atau lebih dari Rp 50 juta. Bram tertawa, “Jangankan dolar, rupiah saja saya tidak punya”.

Setiap kali masuk ke pedalaman, Bram selalu mencari uang dengan cara menjual ayam bakar/goreng di bantu alm. dr. Rica Kapisa. Kadang ia jual biskuit bahkan pakaian. Setelah terkumpul Rp 6-7 juta,- baru Bram bisa terbang ke pedalaman.

Singkat cerita, tanggal 16 Mei 2013, pesawat pertama berhasil mendarat, dan pada tanggal 5 Juni 2013, lapangan terbang Pipal diresmikan oleh Departemen Perhubungan. “Luar biasa, kalau bukan Tuhan yang mengizinkan, saya nggak akan bisa membuat seperti ini,” kata Bram.

Kampung Pipal

Kampung Pipal, dihuni oleh suku Katemban, dengan jumlah kurang dari seratus jiwa. Luas wilayahnya tidak seberapa. Dikelilingi hutan dan sungai-sungai kecil.

Bram memulai misi mulianya mengentaskan buta huruf untuk anak usia sekolah dan para remaja yang belum bisa membaca. Pekerjaan lainnya, bersama masyarakat, ia membersihkan lahan kebun.

Selama melayani di Kampung Pipal, belum pernah masyarakat Katemban dibantu pemerintah. “Saya berharap kesaksian ini bukan hanya jadi cerita, tapi lebih dari itu ada perhatian dari Pemerintah ataupun pihak lain, yang peduli untuk memperhatikan kesejahteraan Orang Papua disana,” ujarnya dengan semangat. (JO/dari berbagai sumber)