“Koyoono” Harta Tertinggi Suku Momuna Papua

JERAT PAPUA – Tanah Papua dikenal dengan “Tanah Surga”, hal itu dikemukakan karena begitu banyak keindahan alam dan kaya budaya. Provinsi Papua, merurut data terupdate tahun 2014, Papua memiliki suku-suku  sebanyak 248 suku asli di Tanah Papua.

Suku-suku ini tersebar pada 7 wilayah adat, yaitu Tabi/Mamta, Saireri, Domberai, Bomberai, Anim Ha, La Pago dan Mee Pago yang melingkupi provinsi Papua, Papua Barat, 40 Kabupaten dan 2 Kota.

Kabupaten Yahukimo adalah salah satu kabupaten yang berada di provinsi Papua, sesuai dengan nama Yahukimo yaitu terdiri dari 4 suku besar yang mendiami kabupaten tersebut. Ya ; suku Yali, Hu ; suku Hubla, Ki ; suku Kimyal dan Mo ; suku Momuna.

Jaringan Kerja Rakyat (JERAT) Papua, bekerja bersama suku Momuna. Suku Momuna mempunyai adat istiadat, salah satunya adalah Koyoono (bacanya ; Koyuno)

Koyoono adalah kalung yang terbuat dari Taring Gigi Anjing. Koyoono sebagai harta tertinggi dari budaya Momuna dalam membayar perkawinan, pembunuhan, denda adat dan beberapa nilai tukar adat lainnya.

Taring Gigi Anjing yang digunakan sebagai Koyoono didapati dari anjing yang dipeliharaan. Masyarakat Momuna mempunyai hubungan erat dengan anjing, bagi mereka anjing adalah sahabat, teman dalam berburu, berkebun dan sebagai penjaga ketika masyarakat Momuna sedang tidur atau beristirahat.

Anjing yang telah mati karena bertarung dengan babi, binatang lain atau anjing yang dibunuh, kepala bangkai anjing akan diramu dengan proses pengasapan (asar) di tungku api. Ada juga anjing yang dibiarkan membusuk di bandar kayu, dusun sagu hingga membusuk habis dan taring giginya diambil.

Tradisi Momuna bagi keluarga yang sedang mengumpulkan taring gigi anjing, wajib menyampaikan kepada keluarga (marga) nya sebagai informasi, karena dengan demikian keluarganya akan menyumbangkan taring gigi anjing satu per satu “koyoo” (satu taring gigi anjing) hingga terkumpul banyak dan di anyam menjadi Koyoono.

Kepercayaan lain yang diyakini untuk mendapatkan taring gigi anjing adalah lewat mimpi. Masyarakat percaya bahwa lewat mimpi taring gigi anjing akan diberikan oleh sang pencipta (Tuhan) kepada orang-orang tertentu. Biasanya pada orang mempunyai perilaku baik, bangun tidur dari mimpi tersebut, ditangannya ada taring gigi anjing 1 atau 2 biji (koyoo).

Taring gigi anjing yang putih, utuh (tampa retak) adalah taring gigi anjing yang lebih tinggi nilai adatnya juga tukarnya.

Hal lain untuk mendapat taring gigi anjing “koyoo” adalah dengan cara barter (tukar menukar) biasanya orang Momuna menukarnya dengan Panah dan Jubi saat sedang pesta babi, pesta ulat sagu dan pesta ular. Bagi mereka dengan adanya pesta seperti itu sebagai ajang untuk bertemu satu sama lain, antar marga satu dengan yang lainnya, maka proses pertukaran juga dapat berlangsung dengan baik dan penuh persaudaraan.

Dalam menganyam Koyoo menjadi Koyoono ada beberapa bahan tambahan sebagai penghias yang juga punya nilai adat tersendiri, yaitu kulit bia/kerang yang diambil dari sungai/kali, ada dua jenis ; ukuran kecil adalah otee (baca : oti) dan ukuran besar adalah siki.

Selain suku Momuna, kalung Taring Gigi Anjing juga digunakan oleh suku-suku sekitar, seperti suku Korowai, Opkaka, Intemaya, Pese, Tokuni, Wemini dan Juwek. (*)