Pidato Menteri Kehutanan Peluncuran Program Rainforest Standard Bali Tower–Menjangan Jungle & Beach Resort

0
99

PIDATO MENTERI KEHUTANAN 
PELUNCURAN PROGRAM RAINFOREST STANDARD 
BALI TOWER–MENJANGAN JUNGLE & BEACH RESORT

 

Perdana Menteri Amerika Serikat, Yang Mulia Robert Blake, Jr;
Perdana Menteri Korea Selatan, Yang Mulia Kim Young-Sun;
Perwakilan dari Kedutaan Besar Swedia;
Gubernur Bali atau yang mewakili;
Bupati Buleleng atau yang mewakili;
Bupati Jembrana atau yang mewakili;
Bupati Banyuwangi;
Direktur USAID Mission, Mr. Andrew Sisson;
Tamu-tamu yang terhormat;
Dan para hadirin yang terhormat,

Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pertama-tama, mari kita panjatkan Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga kita bisa bertemu dalam acara ini acara ini. Acara ini merupakan awal yang penting bagi program kredit karbon melalui demonstrasi pelaksanaan Program Rainforest Standard di Taman Nasional Bali Barat.

Ini adalah sebuah kehormatan dan kesempatan yang sangat berharga bagi kami, Kementerian Kehutanan dan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada konsorsium Sustainable Management Group, Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia dan The Centre for Environment, Economy, and Society of Columbia University yang telah mengembangkan model baru Jasa Lingkungan di Taman Nasional. Juga kami ucapkan terima kasih yang sangat khusus kepada USAID yang telah menginisiasi program penting ini.

Rekan-rekan yang terhormat, 

Hutan Indonesia merupakan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, oleh karena itu, Hutan Indonesia penting tidak hanya bagi perekonomian nasional dan kehidupan masyarakat lokal, tetapi juga bagi lingkungan global. Hutan Hujan Indonesia juga merupakan salah satu hutan dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dan terkandung proporsi lahan gambut yang signifikan di planet ini.

Dalam rangka untuk mengurangi dan bahkan untuk menghentikan tekanan pada hutan yang berharga ini, diperlukan mekanisme pembiayaan kehutanan yang inovatif untuk menyelamatkan hutan di Indonesia. Hal tersebut akan berhasil, apabila mekanisme tersebut mengintegrasikan antara persyaratan dan protokol untuk penghitungan karbon, dampak sosal budaya / sosial ekonomi, dan menghasilkan kelestarian keanekaragaman hayati. Perlu pemahaman mendasar bahwa lingkungan, ekonomi, dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Hutan Indonesia telah siap untuk mengimplementasikan standar kredit karbon terintegrasi yang akan mencapai tujuan konservasi hutan alam, keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian yang lestari, serta pengurangan emisi karbon yang berkelanjutan.

Program Rainforest Standard, yang dikembangkan oleh The Center for Environment, Economy, and Society Columbia University dan para mitra di Cekungan Amazon, adalah standar kredit karbon pertama yang mengintegrasikan sepenuhnya faktor-faktor penting dalam standar kredit karbon. Program Rainforest Standard didasarkan pada pemahaman mendasar bahwa lingkungan, ekonomi, dan masyarakat adalah, “satu kesatuan yang tak terpisahkan”, dimana yang satu tidak dapat berkembang jika yang lain tidak berkembang juga. Bekerja sama dengan Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Sustainable Management Group yang didukung oleh USAID, Program Rainforest Standard ini diadaptasikan dengan kondisi ekologi di Indonesia, konteks sosial-budaya dan ekonomi, dan akan diaplikasikan pada hutan di Indonesia. Tiga sektor kolaborasi yaitu: masyarakat sipil, pemerintah dan sektor swasta adalah sebuah gerakan penting di dunia. Dalam hal ini, kolaborasi antara Columbia University dan Universitas Indonesia, dengan Taman Nasional Bali Barat dan Sustainable Management Group sebagai sektor swasta yang memiliki track record panjang yang sangat baik dalam mengembangkan Wisata Alam yang lestari di kawasan konservasi yang akan mengelola program percontohan ini adalah hal yang sangat menarik.

Bapak dan Ibu sekalian 

Peluncuran Program Rainforest Standard di Indonesia melalui Demonstrasi Program di Taman Nasional Bali Barat, yang dimulai hari ini, akan memungkinkan bagi Indonesia untuk memperkenalkan bahwa mekanisme alternatif pembiayaan bisa memiliki tujuan yang menyeluruh untuk melestarikan hutan alam, keanekaragaman hayati, dan menyediakan mata pencaharian yang lestari, dengan menggunakan pengurangan emisi karbon yang merupakan hasil dari konservasi hutan, untuk menghasilkan aliran pendapatan jangka panjang dari penjualan kredit karbon hutan.

Lebih penting lagi, proyek ini akan sangat melengkapi program Kementerian Kehutanan, di mana pengelolaan hutan pada dasarnya adalah untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari hutan secara lestari dan digunakan secara langsung maupun tidak langsung, untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus menjamin pelestarian sumber daya alam dan lingkungan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bali, 16 Januari 2014
Menteri Kehutanan,

ZULKIFLI HASAN