Dilema Penanaman Pohon di Bukit Mereribo

0
95

” Kelompok masyarakat bukan orang asli Numbay, menebang pohon dan membakarnya untuk membuat  arang kayu yang selanjutnya disuplai (dijual) ke warung ikan bakar di Kota Jayapura. Bahkan menurut Fredy Wanda Ketua FPPNG Kota Jayapura, bahwa kelompok masyarakat perambah ini juga secara sengaja mencabut pohon-pohon yang sudah di tanam. Tindakan tidak bertanggungjawab seperti inilah yang menjadi dilema dalam usaha penanaman pohon dan perlindungan hutan di Bukit Mereribo”.

Bukit Mereribo merupakan salah satu daerah penyangga air yang terancam gundul karena terjadi penebangan pohon yang terus terjadi di daerah ini.  Bukit Mereribo berada di Kelurahan Bhayangkara Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura, tepatnya di daerah aliran air yang menuju ke pusat Kota Jayapura – APO dan sekitarnya. Bukit yang dulunya menjadi hutan kini sudah gundul dan karena itu sudah seringkali terjadi banjir dan tanah longsor yang memakan korban harta benda bahkan nyawa manusia.

      Untuk menghijaukan kembali daerah bukit Mereribo ini berbagai upaya penanaman pohon telah dilakukan, terutama pada beberapa waktu terakhir ini upaya itu dilakukan oleh komunitas-komunitas peduli lingkungan yang dikoordinir oleh Forum Peduli  Port Numbay Green(FPPNG). Pada tanggal 7 Juni 2014 para aktivis lingkungan ini telah menanam sekitar 1000 pohon, dan sesuai kesepakatan mereka bahwa setiap tiga bulan sekali akan kembali melanjutkan penanaman sekaligus mengecek kondisi pohon-pohon yang sudah ditanam, maka pada Sabtu, 30 Agustus 2014 komunitas peduli lingkungan ini kembali ke bukit Mereribo untuk melakukan kegiatan mereka.

      Kali ini kelompok aktivis yang terdiri dari FPPNG, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kota Jayapura, Club Pencinta Alam(CPA) Mangrove Dok VIII, Pemuda Gereja GKI Sion Dok VIII, Pemuda Bhayangkara, Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (R-TIK) Papua, Mahasiswa Geografi UNCEN, BEM STIKOM Muhammadiyah Jayapura, Komunitas Pemuda Maluku- SATU DARAH, Komunitas Bloger Papua, Komunitas Fotografer Kota Jayapura, melakukan aksi penanaman sekitar 700 pohon, dengan mengusung tema “Gerakan Rakyat Hijaukan Port Numbay – PAPUA UNTUK DUNIA”.

Mereribo-Endy-Jerat
Bagian atas bukit Mereribo yang baru ditebang oleh oknum/kelompok masyarakat untuk membakar arang kayu yang disuplai ke warung-warung ikan bakar di Kota Jayapura. ( Foto : Endy )

      Hal yang sangat disayangkan, setelah tiga bulan ketika para aktivis ini kembali ke Bukit Mereribo, ternyata di bagian atas yang waktu itu masih utuh sebagai hutan ternyata sudah terjadi kegiatan penebangan yang menyebabkan daerah itu gundul( lihat foto diatas ). Menurut beberapa aktivis yang tinggal disekitar Kelurahan Bhayangkara dan terlibat aktif dalam kegiatan penanaman ini, bahwa penebangan itu dilakukan oleh kelompok masyarakat yang bukan orang asli Numbay sebagai pemilik tanah dan hutan di bukit Mereribo. Kelompok masyarakat dimaksud menebang pohon dan dibakar untuk dijadikan arang kayu yang selanjutnya disuplai (dijual) ke warung ikan bakar di Kota Jayapura. Jadi ada suatu siklus ekonomi antara para pemilik warung dengan kelompok perambah hutan yang saling bergantung, sehingga hal ini akan terus dilakukan selama ada kebutuhan timbal balik, dan itulah yang menjadi ancaman bagi hutan di atas bukit Mereribo. Bahkan menurut Fredy Wanda Ketua FPPNG Kota Jayapura, bahwa kelompok masyarakat perambah ini juga secara sengaja mencabut pohon-pohon yang pernah di tanam, seperti dalam kasus penanaman yang dilakukan oleh WWF Regio Sahul Papua. Tindakan tidak bertanggungjawab seperti inilah yang menjadi dilema dalam usaha penanaman pohon dan perlindungan hutan di Bukit Mereribo.

      Diprediksi kalau tidak segerah ada kebijakan yang tegas dari Pemerintah Kota Jayapura untuk melindungi kawasan penyangga air termasuk bukit Mereribo ini, maka bukit ini akan gundul semuanya dan penduduk tinggal menunggu musibah banjir dan longsor yang akan terjadi, ungkap anggota polhut dari Dinas Kehutanan Kota Jayapura ini. Menurut beliau peraturan kehutanan tentang hutan lindung dan konservasi sebenarnya ada, hanya saja perlu ada peraturan daerah  Kota Jayapura yang akan menjadi dasar bagi semua pihak untuk mengambil langkah tegas bagi perlindungan hutan di kawasan penyangga air di bawah kaki gunung Syklop ini. Anggota polhut yang sudah bertugas sejak tahun 1984 ini juga berharap semua kelompok masyarakat di kota ini mau ikut mengambil bagian dalam upaya melindungi hutan yang ada dan turut menanam serta menjaga tanaman yang sudah ada. Khusus bagi LSM-LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup, beliau berpesan agar jangan mau tanam pohon karena uang, atau harap perhatian dan penghargaan, tetapi perlu berperan dalam memberi dukungan bagi kegiatan penanaman yang dilakukan secara sukarela seperti yang selama ini dilakukan oleh komunitas peduli lingkungan bersama FPPNG yang sudah bergerak sejak awal tahun 2009 sampai sekarang di kota ini. 

      Mengakhiri komentarnya, Bapak Fredy dengan nada sedih menuturkan, “ kami anggota polhut di kota ini tinggal 9 orang, dan saya sisa dua tahun lagi akan pensiun, tapi belum ada perekrutan anggota baru yang dapat melanjutkan tugas untuk menjaga Cagar Alam Syklop yang berada dalam wilayah Kota Jayapura. Padahal saya pernah mengusulkan kepada Sekda Kota Jayapura alm. Bapak Nerokouw, agar merekrut anggota polhut dari masyarakat pemilih hak ulayat, yaitu dari Skow 3 kampung, Nafri, Engros, Tobati dan Kayu Pulau, supaya sebagai anak asli Numbay, mereka merasa bertanggungjawab dalam menjaga hutannya sendiri, tetapi sampai hari ini belum ada realisasi”.

( Endy/Jerat Papua ) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here