Kanguru dan Perburuan Liar

0
795

Kanguru, atau walep (saham) dalam bahasa Malind Anim, semakin berkurang di Taman Nasional Wasur. Penurunan jumlah Kanguru sepuluh tahun terakhir ditengarai akibat perburuan liar menggunakan senjata.

“Sangat kurang, padahal saham itu adalah hewan yang dianggap sakral dari totem marga di penduduk Malind Anim,” kata Hengky Mahuze, warga Kampung Bokem.

Ia mengatakan, selain Kanguru, rusa di kawasan konservasi Taman Nasional Wasur (TNW) juga menjadi sasaran pemburu gelap. Harga daging Kanguru dan rusa begitu menjanjikan. Berkisar antara Rp 60 ribu-75 ribu per kilogram untuk rusa, sedangkan Kanguru dari Rp 45 ribu-60 ribu per kilogram. “Kita sesalkan perburuan rusa dan Kanguru. Kita menggunakan panah tradisional hanya untuk makan. Sementara pemburu liar, pakai senjata,” ujarnya.

Kanguru atau saham berukuran kecil. Berbeda dengan Kanguru Australia yang bertubuh besar, saham Merauke dilindungi karena merupakan hewan endemik daerah itu. Saham memiliki hubungan dengan totem marga Samkakai.

Totemisme atau keterkaitan marga dengan tumbuhan atau satwa berlaku di suku Malind Anim sejak nenek moyang. Marga Balagaize, misalnya, disebut erat dengan buaya dan burung elang, Gebze disimbolkan dengan pohon kelapa, Kaize; kasuari, dan Basik-Basik; babi. “Ada penghinaan kalau saham diburu, artinya itu juga membunuh kami orang Marind,” kata Hengky.

Perburuan liar di Merauke, kata dia, berlangsung sejak puluhan tahun lalu. “Sekarang agak berkurang. Dulu, rusa diburu hanya untuk diambil tanduknya. Harga tanduk ratusan ribu. Dagingnya dibuang. Saham juga begitu, diburu untuk dijual di kota,” ucapnya.

Taman Nasional Wasur memiliki luas sekitar 430 ribu hektare. Memiliki potensi keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kawasan ini juga merupakan tempat bagi beberapa jenis burung migran dari Australia dan Selandia Baru. Terdapat 403 spesies burung dengan 74 di antaranya endemik Papua. 114 spesies adalah hewan dan tumbuhan dilindungi.

Nicolaus (66), salah seorang warga Merauke yang pernah berburu rusa dan Kanguru, mengatakan, sekitar tahun 1980 tidak sulit melihat rusa dan Kanguru. Keduanya sering terlihat di luar taman nasional, bahkan satu-dua ekor ditemukan berkeliaran di dalam kota.

”Perburuan yang terus dilakukan telah membuat jumlah keduanya berkurang jauh. Untuk berburu rusa atau Kanguru harus masuk jauh ke hutan. Itu pun untung-untungan karena tidak mudah menemukan,” katanya.

Mantan Kepala Balai TN Wasur Dadang Suganda membenarkan masih terjadinya perburuan rusa ataupun Kanguru di Merauke. Tidak hanya oleh masyarakat asli Papua, tetapi juga masyarakat luar Papua.

Namun, ia belum tahu dampaknya terhadap populasi rusa dan Kanguru karena balai belum pernah menghitungnya. ”Penghitungan populasi harus serentak dilakukan di seluruh taman nasional. Ini yang sulit karena butuh banyak orang untuk melakukannya.”

Penyeludupan
Berkurangnya Kanguru di TN Wasur, tak lepas pula dari usaha sejumlah oknum menyeludupkan hewan dilindungi itu ke luar Papua. Misalnya terjadi pada kasus diseludupkannya sebanyak 21 ekor Kanguru Tanah (thylogale brunii) ke Pulau Jawa, beberapa tahun silam. Kasus ini belakangan terbongkar dan Kanguru tersebut dilepaskan kembali ke habitatnya.

Pelepasan Kanguru itu diiringi dengan upacara adat suku Marind. Pada kesempatan itu Budiharto dari Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) menjelaskan bahwa semula petugas menemukan lima ekor Kanguru tanah di wilayah Jawa Barat, namun dalam perkembangannya, Kanguru beranak pinak menjadi 21 ekor.

“Melalui kerja sama dengan PT Freeport Indonesia dan Departemen Kehutanan, akhirnya semua Kanguru yang berasal dari Merauke itu dikembalikan ke habitatnya. Sebelum pulang ke Merauke, Kanguru ini dipelihara oleh Herman Apoka di Kampung Nayaro, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika,” kata Budiharto.

John Gluba Gebze, tokoh masyarakat Merauke mengakui kalau penduduk Merauke adalah warga konservasi, penyelamat satwa. Sejak zaman para leluhur, suku-suku di Merauke mempunyai totem salah satu jenis satwa, seperti Kanguru, Kasuari dan sebagainya.

“Kanguru adalah salah satu jenis endemik di Papua yang terancam punah akibat perburuan liar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Hal ini tidak boleh dibiarkan karena nantinya Kanguru lari meninggalkan Merauke dan selanjutnya memasuki hutan rimba Papua Nugini.”

Pada 2009, Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur pernah pula menggagalkan perdagangan lima Kanguru Tanah asal Merauke, yang dimuat kapal motor (KM) Mitra Nusantara.

“Awalnya, kami menerima informasi bahwa KM Mitra Nusantara membawa 10 Kanguru Tanah asal Papua untuk dijual ke Pulau Jawa,” kata Kepala Seksi Penegakan Hukum Ditpolair Polda Jatim Kompol Widarmanto di Surabaya.

Setelah itu, katanya, polisi akhirnya menyanggong KM Mitra Nusantara di Perairan Selat Madura, kemudian dilakukan penggeledahan untuk mencari Kanguru Tanah yang dimaksud.

“Kami hanya menemukan lima Kanguru Tanah di dalam palka, kemudian kami periksa awak kapal, sehingga diketahui bahwa lima Kanguru Tanah yang dibawa telah mati akibat kelaparan dan stres, kemudian bangkainya dibuang ke laut,” katanya.

Menurut dia, lima Kanguru Tanah yang masih hidup itu kemudian di karantina di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Juanda, Jawa Timur. “Pengakuan awak kapal, Kanguru-Kanguru itu dibeli dari Papua dengan harga Rp2 juta per hewan, karena itu penyelidikan kasus itu dikembangkan untuk mengetahui kemungkinan adanya sindikat perdagangan satwa yang dilindungi itu.”

Perlindungan
Merauke, dinilai perlu meniru Australia yang berhasil menernakan Kanguru, bahkan menjadikannya komoditas ekspor. Tanpa ada upaya menernakan satwa itu, Kanguru di Merauke dikhawatirkan akan punah.

“Australia ekspor daging Kanguru ke Jerman dan Inggris. Kenapa tidak berpikir seperti Australia, kita harus budidayakan agar berkembang secara baik dan bisa jadi komoditas,” ucap Agus E Dumatubun, dosen Antropologi Universitas Cenderawasih, Jayapura, dalam lokakarya Integrasi Pembangunan dan Konservasi di Kabupaten Merauke.

Ia menuturkan, potensi-potensi lokal di Merauke harus dikembangkan, agar memiliki nilai lebih untuk memberdayakan masyarakat lokal.

Selain satwa asli yang bisa diternakan, Merauke juga memiliki hasil bumi potensial, seperti ubi-ubian dan pisang yang juga bisa diolah dan menjadi komoditas andalan, misalnya menjadi keripik ubi atau pisang.

Seruan senada disampaikan Budhi Wardhana dari World Wildlife (WWF) Indonesia. Menurut Budi, Merauke bisa meniru Norwegia yang berhasil menernakan rusa. “Di Norwegia rusa diternakkan. Kenapa di Papua tidak bisa.”

Merauke dikenal sebagai kota rusa, karena terdapat banyak rusa yang hidup liar di hutan-hutan. Namun kini populasinya semakin terancam karena maraknya perburuan liar. Demikian pula Kanguru.

(Jerry Omona/dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here