MMP Gelar Seminar Radikalisasi Agama Versus Gerakan Papua Tanah Damai

0
93

Majelis Muslim Papua merupakan salah satu organisasi keagamaan di Tanah Papua, yang sejak berdirinya pada April 2007, telah dan terus konsisten mnyerukan dan menyebar benih-benih perdamaian sampai saat ini. Bahkan jauh sebelumnya komunitas muslim di Tanah Papua ini telah banyak berbicara dan bergerak dalam upaya-upaya membangun perdamaian di tanah ini, misalnya melalui wadah gerakan Solidaritas Muslim Papua yang menjadi embrio dari Majelis Muslim Papua(MMP).

 

Sebagai organisasi keagamaan MMP menjalankan nilai-nilai keislaman yang mengedepankan sikap dasar dan platform organisasi yaitu sikap moderat, Toleran, Tegak, Seimbang dan Dialogis yang mendorong MMP bertanggungjawab untuk bergandengan tangan dengan berbagai pihak menegakkan keadilan dan perdamaian bagi semua orang yang hidup di Tanah Papua. Atas  dasar itulah, MMP kembali menggelar seminar dengan tema : “Radikalisasi Agama Versus Gerakan Papua Tanah Damai” pada Sabtu, 22 November 2014, bertempat di Aula STM Kotaraja Jayapura.

 

Dalam sambutannya mengawali seminar tersebut, Ketua Umum MMP H. Aroby A. Aituarauw, SE, MM yang sehari sebelumnya telah melakukan Rapat Kerja Konsultasi Tahunan dan Evaluasi Kerja MMP bersama Pengurus Pusat dan Wilayah, mengatakan, Majelis Muslim Papua melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat dialog tentang bagaimana melihat Papua hari ini dan ke depan, serta kegiatan-kegiatan resolusi konflik, termasuk seminar ini yang merupakan kelanjutan dari Program MMP.

 

Beliau berharap melalui seminar ini ada wawasan bersama, ada silaturahim yang terbagun, sehingga bila terjadi masalah-masalah di masyarakat yang mungkin tidak berkaitan dengan agama tapi  bisa saja menyerempet masuk ke wilayah agama, maka semua pihak bisa duduk bersama untuk menyelesaikannya. Juga dengan seminar ini dapat diketahui  tentang apakah benar sudah ada faham-faham radikalisasi agama yang masuk ke Papua, di titik-titik mana saja, sehingga  secara bersama-sama dapat diambil langkah-langkah untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya kerusuhan atau konflik yang menjurus kepada sara.

Selanjutnya dari presentasi masing-masing narasumber, Ibu Elga Sarapung lebih soroti perbedaan-perbedaan dalam agama baik internal suatu agama maupun antar agama, klaim-klaim kebenaran yang justru menjadi pemicu berbagai sikap radikalisme yang kemudian berbuah konflik.

Solahudin, sebagai peneliti radikalisme agama beliau juga banyak menyoroti fahamisme dalam agama yang menjadi alasan sikap radikal yang berujung pada aksi-aksi terorisme di dunia dan terutama di Indonesia. Sedangkan Pastor Jhon Jonga dan Thaha M Alhamid menyampaikan berbagai fakta konflik dalam sejarah masa lalu agama dan konflik internal agama yang terjadi di beberapa wilayah di Tanah Papua. Para narasumber juga memberi catatan-catatan yang penting serta harapan-harapan bagi upaya membangun perdamaian di Tanah Papua.

Selain itu, dalam memberi pandangan tentang harapan pembangunan perdamaian di Tanah Papua, Fadhal Alhamid ( Wakil Ketua I MMP ) menyampaikan suatu pandangan dengan kesan yang mendalam, bahwa sebenarnya Radikalisasi Agama tidak akan terjadi apabila semua orang sungguh-sungguh memahami, menyadari serta menghayati makna  damai yang sesungguhnya baik dalam ajaran agama maupun dalam pandangan moralitas manusia. Barangkali pandangan inilah yang menjadi catatan untuk diskusi-diskusi dan kerja-kerja selanjutnya dalam membangun Tanah Papua sebagai negri yang aman dan damai bagi semua orang, tanpa melihat kepada perbedaan-perbedaan yang hanya menjadi sekat bagi anak-anak Adam.

( Jerat Papua : Endi )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here