Pesan Natal JOKOWI “Saya Ingin Berdialog Dengan Hati”

0
57
Ribuan Umat Kristiani Merayakan Natal Nasional Yang Dihadiri Presiden Jokowi di Stadion Mandala, Kota Jayapura. Foto : Wirya Supriyadi
Ribuan Umat Kristiani Merayakan Natal Nasional Yang Dihadiri Presiden Jokowi di Stadion Mandala, Kota Jayapura. Foto : Wirya Supriyadi

Jayapura,- Ribuan Umat Kristiani ikut dalam Perayan Natal Nasional dilaksanakan pada Sabtu (27/12) dan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Dalam pesan Natal yang disampaikan didepan ribuan peserta yang hadir  Jokowi  turut berempati terhadap peristiwa di Paniai dan ingin segera kasus tersebut dituntaskan. Kita ingin tanah Papua sebagai tanah yang damai, saya ingin kasus ini diselesaikan secepat-secepatnya,” ucap Jokowi yang disambut dengan tepuk tangan hadirin Natal . Dalam memberikan perhatian khusus kepada Papua dirinya kedepan akan rutin datang ke Papua.  Minimal tiga kali setahun dirinya akan mengunjungi Papua tambah Jokowi. “Kedatangan saya ke tanah Papua, saya ingin gunakan sebanyak-banyaknya untuk mendengarkan suara rakyat Papua. Saya ingin berdialog dengan hati, sebagai fondasi untuk menatap masa depan rakyat Papua yang lebih baik,” tegas Jokowi

JokowiSebelumnya Jokowi mendapatkan kritik dari Pakar Etika Politik dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis Suseno  dalam postingan  pada hari Selasa (23/12) lalu dengan judul “Your Letter : Jokowi Does Not Need To Go To Papua” pada Reader Forum Jakarta Post menyatakan Presiden Jokowi telah gagal membuktikan bahwa ‘Jakarta’ benar-benar menganggap bahwa rakyat Papua sebagai warga negara Indonesia dan sebagai manusia. “Tidak bagi Jokowi, ini kejadian biasa. Seperti pendahulunya, ia tak akan melaksanakan investigasi serius terhadap kekejaman yang dilakukan aparat keamanan di sana.” Tulis Frans Magnis.

Di bagian akhir, Sang Budayan juga menulis kritik  terhadap Presiden Jokowi. “Hanya butuh waktu kurang dari dua bulan masa kerja bagi Presiden baru ini untuk menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang politisi yang mengincar kekuasaan seperti yang lain”. (Wirya Supriyadi)