Markus Orboseray : Berlayarlah Dengan Layar Sendiri

0
112

Jayapura, – Suaranya yang berkharisma dan pribadi yang ramah dapat ditemui pada diri Markus Orboseray. Pria dari Kampung Yongsu Dosoyo, Kabupaten Jayapura, yang menggeluti seni fasilitator yang telah banyak mendapatkan pengalaman baik dalam melakukan pemetaan partisipatif maupun dalam resolusi konflik. Hal ini didapat karena ketekunan, banyak belajar dan kerja keras. Perkenalannya dengan Lembaga Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Adat (LPPMA) dimulai sejak tahun 1994 dan membentuknya menjadi seorang fasilitator. Saat ditemui di Waena Juni lalu disela-sela kegiatan Strategy Planning dan Rapat Umum Anggota (RUA) Perkumpulan Terbatas (pt) untuk Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Adat (PPMA) Papua, Markus Orbesaray menceritakan pengalamannya sebagai seorang fasilitator.

“Pada awalnya saya mendapatkan pelatihan pendidikan hukum kritis , sebelum masuknya progam dari YKPHM pada tahun 1994. Sehingga kami dapat mengumpulkan informasi, data dan juga masalah seluruh menyeluruh ” ujar Markus Orboseray yang lahir 53 tahun lalu. Ditambahkannya diri ikut dalam pelatihan dan dibekali dengan prinsip-prinsip dan ilmu tentang fasilitator serta didukung dengan pengetahuan tentang  aturan adat jadi pelengkap menjadi fasilitator yang baik. Dalam pelatihan juga diberikan pemahaman tentang apa itu hukum dan disandingkan dengan hukum adat yang membantu masyarakat juga dalam memahami konteks masalah yang mereka hadapi dari sudut hukum positif dan adat.

Dengan pelatihan tersebut membentuk awal karakter untuk menjadi seorang fasilitator. “Fasilitator bagi saya adalah  ibarat sebagai alat, alat yang berguna bagi masyarakat. Kalau saya sebagai cerek maka apa yang disampaikan oleh masyarakat saya tampung” ujar pria yang akrab di sapa Max. Dari kemampuan memfasilitasi kegiatan maka dirinya juga terlibat kegiatan pemetaan partisipatif bahkan resolusi konflik di Ambon. Dijelaskannya bahwa dirinya mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam resolusi konflik di Ambon, hal ini merupakan kepercayaan yang diberikan kepada dirinya oleh pihak  Lembaga Bantuan Hukum (BH) Jayapura, YPKHM, YPMD Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD), World Wide Fund (WWF).

“Mereka memahami aktitivas kami lakukan di masyarakat. Disisi lain kami sedikitnya menghormati  dan memahami nilai dan norma adat sehingga membantu melakukan rekonsilisasi. Dan membantu saudara-saudara kami yang berkonflik. Saya diikut sertakan dalam konflik Ambon tahun 2000, ” ucap Markus Orboseray sambil tersenyum. Karena dengan keterampilan yang dipunyai dirinya bisa membantu  saudara-saudara lain yang mengalami musibah berupa konflik.

Saat disinggung tentang latar belakang pendidikan dan hal-hal apa yang perlu dipegang oleh seorang fasilitator, Markus Orboseray menjelaskan bahwa pendidikan dirinya  tidak tinggi tapi ingin selalu belajar dan rendah diri. “Tidak tunjuk saya orang yang hebat. Hal ini membangun kepercayaan dari masyarakat kepada saya. Untuk jadi fasilitator ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,” ujar Markus Orboseray.  Hal yang dimaksud  adalah bisa menempatkan diri, menjaga tata krama yang ada, tidak boleh marah-marah, sabar, setia dengan tugas, banyak mendengar . ”Dan kami merendahkan diri didepan masyarakat sehingga tumbuhlah rasa menghargai  kepada kami” tukas Markus Orboseray.

Hal yang berkesan dalam menjalami tugasnya sebagai fasilitator adalah  menjiwai tugas  dan rasa memiliki adalah hal yang mendasar. Terutama dalam melakukan pemetaan partisipatif. “Karena dalam melakukan pemetaan partisipatif adalah berhadapan dengan alam maka saya berhadapan dengan karya Allah yang Maha Besar baik dari sisi agama maupun agama adat. Saya gembira  bahwa saya bisa membantu menata , menjaga dan mengatur sesuai aturan adat yang berlaku dan ini menjadi  berkat yang baik,” ucap Markus Orboseray yang juga merupakan Tokoh Adat Kampung Dosoyo, Yongsu. Selain itu juga masyarakat memberikan dukungan baik dalam menghargai dan memberikan masukan berupa nasehat. Masyarakat dan ondoafi memberikan saya kepercayaan dan memberikan kekuatan untuk tetap terus memberikan kekuatan yang baik.

Dengan pengalaman sebagai fasilitator dan juga jam terbang yang telah lama dan dianggap sebagai tokoh kunci maka Markus Orboseray mendapatkan kepercayaan dan bekerja membantu prorgam dari beragam lembaga baik ditingkat lokal, nasional bahkan internasional. Misalnya dari Perkumpulan Terbatas Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Adat (pt.PPMA),  Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD), Conservation Internasional (CI) dan Word Wide Fund (WWF).

Dengan adanya perubahan semakin besar dan mengikis nilai dan norma adat bukan hanya di Papua tapi juga diseluruh dunia. Khususnya di Papua , Markus Orboseray sudah melihat perubahan dan dampak yang terjadi. Maka dirinya berpesan kepada  anak muda Papua agar : 1) memperhatikan nilai dan norma adat . karena perubahan sekarang ini dibanding dengan sejarah perjalan hidup hingga adanya kampung halaman hingga adanya keturunan merupakan hal yang berat hingga kita sekarang ini ; 2) Kita harus rendah diri, kita harus memahami nilai dan norma adat kita. Kalau kita paham maka kita atasi perubahan dan tantangan yang datang. Jika tidak paham nilai dan norma maka kita akan digilas perubahan;

Diakhir perbincangannya, Markus Orboseray mengatakan dalam filosophy orang tua dikatakan, “Pada saat kamu berjanji untuk menuju suatu pelabuhan kota pakailah layar mu sendiri, maka akan tiba dengan selamat. Tapi Janganlah  memakai layar orang lain karena saat ditengah jalan orang yang punya layar meminta layar itu diturunkan maka akan tidak akan sampai ketujuan pelabuhan dengan tenang”.

(Wirya Supriyadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here