BARTHOL KUBU Tulus Mendorong Perubahan Masyarakat Adat Momuna

0
223

Jayapura,- Jika kita pertama kali bertemu dengan sosok pemuda yang berbadan tegap tentu saja akan berpikir bahwa orang tersebut terkesan tidak ramah. Namun hal ini tidak berlaku pada diri seorang pemuda Momuna bernama Barthol Kubu. Pria kelahiran Dekai, 29 tahun yang lalu ternyata adalah seorang pemuda ramah. Karena dengan mudah cepat menyesuaikan dan bergaul. Hal ini pengaruhi karena dirinya mampu menyesuaikan diri kepada setiap orang. Barthol Kubu melewati masa pendidikan di Wamena dan Jayapura sehingga mempunyai relasi dari berbagai macam suku baik Papua dan Nusantara.

Barthol Kubu, merupakan salah satu Community Organizer (CO) Jerat Papua di Dekai, Yahukimo. Peran Barthol Kubu berperan sebagai CO sangat membantu Jerat Papua dalam melakukan implementasi program dilapangan. Hal ini dibuktikan saat pada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Jerat Papua , yakni pelatihan CO pada Februari 2014 dan Konfrensi Masyarakat Adat Momuna (KMAM) Ke – I Bulan Oktober 2014 lalu.

Dalam pelatihan CO salah satu tantangan yang dihadapi adalah minimnya peserta memahami bahasa Indonesia. Sehingga saat kegiatan berlangsung , Septer Manufandu selaku kegiatan saat menyampaikan isi materi, maka Barthol Kubu berperan membantu menterjemahkan kedalam bahasa Momuna, demikian juga sebaliknya jika terdapat pertanyaan dari peserta maka Barthol Kubu akan membantu menterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Hingga akhirnya kegiatan pertama Jerat Papua tersebut sukses dilaksanakan.

SE JERAT saat dibantu penerjemaan bahsa oleh Barthol Kubu
SE JERAT saat dibantu penerjemaan bahsa oleh Barthol Kubu

Alumnus Strata 1 dari Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Cenderawasih (Uncen) pada tahun 2013 ternyata mempunyai kepedulian yang tinggi dalam mendorong perubahan masyarakat adat Momuna kearah yang lebih baik. Hal ini dapat dibuktikan pada bulan Maret 2015 lalu usai mengikuti pelatihan dasar Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Hitam, Kota Jayapura yang diselenggarakan Jerat Papua. Barthol Kubu dan beberapa kawan-kawan lainnya yakni Tinus Keikyera, Sony Omu, Simon Kokini, Sem Baimuka, Ayub Keikye dan (alm) Andy Irainkya segera melakukan sosialisasi mengenai tentang hak-hak masyarakat adat dalam konteks HAM kepada masyarakat di kampung-kampung.

Mereka berbagi peran, siapa yang menyampaikan informasi dan di kampung mana untuk melakukan sosialisasi agar tidak tumpang tindih satu dengan lainnya. Adapun strategi yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yakni dengan mengikuti ibadah Hari Minggu, saat sesi warta jemaat maka Barthol Kubu menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat dengan menggunakan Bahasa Momuna.

Disisi lain mereka melakukan sosialisasi berdasarkan inisiatif sendiri. Kenapa seperti itu? Karena Barthol Kubu dan kawan-kawan melihat bahwa kondisi masyarakat di kampung-kampung minim dengan informasi. Sehingga dengan adanya sosialisasi yang dilakukan dapat membantu menambah wawasan masyarakat di kampung-kampung. Dirinya merasakan bahwa kampung-kampung masyarakat adat Momuna masih tertinggal dibandingkan dengan kampung-kampung yang pernah dirinya temui.

Mereka semua melakukan sosialisasi misalnya ke Kampung Massi, Muara, Kokamu tanpa pamrih, hal ini semata-mata dilakukan sebagai tanggung jawab moral untuk membagikan pengalaman dan pengetahun yang mereka dapatkan selama pelatihan kepada masyarakat.

Hingga kini, Jerat Papua jika melakukan implementasi program , maka Barthol Kubu akan membantu menterjemahkan kedalam bahasa Momuna. Juga saat dilangsungknya Konfrensi Masyarakat Adat Momuna (KMAM) Ke – I pada bulan Oktober 2014, Barthol Kubu memainkan perannya dalam memberikan pemahaman kepada para peserta konfrensi dengan menggunakan bahasa daerah. Dan hal ini dilakukan tanpa menuntut pamrih (bayaran).

Karena dirinya tulus untuk membantu mendorong kondisi masyarakat adat Momuna menuju kearah yang lebih baik. Karena dirinya tidak ingin masyarakat adat Momuna termarjinalkan dalam pembangunan. Maka Masyarakat Adat Momuna berinisiatif membentuk organisasi adat yang merupakan payung bagi mereka semua dan corong dalam melakukan advokasi pemenuhan hak Ekosob Masyarakat Adat Momuna.

Barthol Kubu juga sedang mencoba menyelesaikan studi Strata 2 di Uncen. Namun jadi hal yang klasik adalah masalah biaya, hingga keinginannya untuk menyelesaiakan S2 harus ditunda hingga ada biaya untuk membayar uang semester dan biaya hidup sehari-hari. Namun dirinya tetap tidak menyerah karena dirinya yakin percaya bahwa penundaan ini ada maknanya dan Tuhan pasti punya rencana lain bagi umat-Nya yang bekerja dan mengabdi untuk perubahan masyarakat adat Momuna kearah yang lebih baik.
(Wirya Supriyadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here