“MIRIS” SD Negeri Kwaserama Yahukimo, 50% Guru TIDAK Aktif Mengajar

0
319
Suasana pengarahan oleh Kepala SD Kwaserama sebelum dimulainya proses belajar mengajar. (Foto: Wirya Supriyadi / Jerat Papua)
Suasana pengarahan oleh Kepala SD Kwaserama sebelum dimulainya proses belajar mengajar. (Foto: Wirya Supriyadi / Jerat Papua)

Dekai, Kwaserama adalah sebuah nama kampung terletak di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Kurang lebih 10 Km dari titik nol Kota Dekai. Suasana jalan menuju kampung tersebut masih ditumbuhi pepohonan sehingga kesan sejuk dapat ditemui. Dalam kampung terdapat belasan rumah sosial yang dibangun oleh pemerintah pada tahun 2012. Terdapat juga sebuah gedung Sekolah Dasar (SD) Negeri  Kwaserama , terdapat 4 ruangan  terdiri dari 3 kelas dan 1 ruang guru dan kepala sekolah. Disisi bagian samping terdapat 2 buah ruang kelas yang tampak baru dibangun.

Saat Jerat Papua menyambangi sekolah tersebut  pada awal November 2015 terdapat hanya 2 orang guru yang mengajar yakni Demianus Keikye, S.Pd yang merupakan kepala sekolah  sedang mengajar  murid di Kelas  3  dan seorang guru honor bernama Simon Kokini yang sedang mengajar murid kelas 1 dan 2. Keduanya merupakan putra asli Masyarakat Adat Momuna. Tidak tampak adanya guru-guru lain yang mengajar.

Suasana pengarahan oleh Kepala SD Kwaserama sebelum dimulainya proses belajar mengajar. (Foto: Wirya Supriyadi / Jerat Papua)
Suasana pengarahan oleh Kepala SD Kwaserama sebelum dimulainya proses belajar mengajar. (Foto: Wirya Supriyadi / Jerat Papua)

Menurut penuturan seorang warga yang bernama Sem Kokini, bahwa memang guru – guru jarang mengajar di sekolah tersebut. “Mereka tidak mengajar , bahkan ada yang sudah lama tidak pernah datang” ujar Sem Kokini. Tentu saja berdampak terhadap kualitas murid-murid yang nanti lulus. “Nanti bagaimana mereka jika melanjutkan pendidikan ke SMP kalau guru saja tidak pernah mengajar di kampung” tukas Sem Kokini. Menurutnya jarak antara Kampung Kwaserama dengan Kota Dekai tidak begitu jauh. Sehingga tidak ada alasan para guru tidak mengajar. Dirinya juga terkadang dari Kota Dekai ke Kampung Kwaserama berjalan kaki.

Sementara itu seorang tokoh pemuda , Jhon Keikye membenarkan bahwa dirinya juga prihatin juga dengan kondisi sekolah di kampungnya. “Saya dulu pernah meminta bendahara di Dinas Pendidikan untuk menahan gaji para guru yang tidak pernah mengajar di SD Kwaserama” ucap Jhon Keikye dengan mimik serius. Tentu saja karena tindakan tersebut berdampak dirinya pernah diteror oleh oknum guru tersebut sehingga dirinya harus menetap di Sentani untuk sementara waktu. “ Saya berharap para guru yang tidak mengajar bisa segera kembali mengajar di SD Kwaserama, karena itu merupakan tanggung jawab moral ketika mereka telah disumpah dan bersedia ditempatkan dimana saja dalam negara ini” kata Jhon Keikye yang merupakan alumnus SMA N I Dekai. Ditambahkannya bahwa di SDN Kwaserama terdapat   13 orang guru namun sebanyak 8 orang guru kadang tidak aktif mengajar, ini artinya lebih dari 50% guru tidak aktif mengajar.

Tentu saja warga Kampung Kwaserama juga mempunyai harapan yang sama dengan apa yang disampaikan oleh John Keikye. Karena miris sekali di era sekarang ini masih terdapat oknum guru yang tidak mengajar dan mengabaikan tanggung jawab moral mereka guna mencerdaskan generasi muda Papua terutama dari Masyarakat Adat Momuna.

(Wirya Supriyadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here