Nyanyian “Ano’ai” dari Serui

0
3547

Cerita dari Kampung. Kabupaten Kepulauan Yapen(Serui) adalah salah satu kabupaten dalam wilayah adat Papua, yakni Saiseri. Wilayah adat Saireri terdiri dari beberapa suku yang mendiami daerah ini. Suku-suku besar antara lain, suku Byak dan suku lain dari pulau Biak Numfor serta Supiori, Suku Onate, Ambai dan suku lain dari Pulau Yapen dan Suku dataran Waropen hingga Nabire pesisir.

Dari suku-suku ini, terdapat nyanyian adat yang sering mereka nyanyikan sebagai doa pada sang pencipta. Nyanyian tersebut antara lain Wor dari pulau Biak, Ano’Ai dari Yapen, Muna dari Waropen dan juga nyanyian lain dari suku lainnya.

Nyanyian adat ini sering juga dinyanyikan pada acara pesta adat dan sambutan tamu terhormat. Acara adat yang sering mempersembahkan nyanyian Ano’ai adalah perkawinan dan pembayaran maskawin pada suku-suku yang ada di Yapen Serui.

Penjelasan berikut dari Ibu Min Reba tentang sistem perkawinan di daerah Serui  atau Waropen, bahwa jumlah maskawin disesuaikan dengan permintaan dan kesanggupan pihak laki-laki untuk membayar pihak perempuan. Pembayaran maskawin berupa gelang batu yang disebut “paseda”; piring gantung asli yang dengan tanda ada bunyi (piring lesa-lesa), jika diisi makanan di dalamnya tidak akan basi; membawa hewan (kasuari atau babi hutan). Gelang batu biasa diberikan atau di terima oleh kepala suku dari pihak perempuan, sedangkan piring gantung dan piring batu berwarna putih dibagikan kepada seluruh keluarga dari Bapak dan Ibu si pihak perempuan. 

Sebelum pembayaran maskawin, terlebih dahulu dimulai dengan acara peminangan kepada perempuan berupa pembayaran uang pintu dan uang susu. Uang pintu adalah diberikan kepada keluarga yang membuka pintu saat pihak laki-laki datang kerumah untuk meminang anak perempuan. Sedangkan uang susu adalah uang yang diberikan kepada ibu dari perempuan tersebut sebagai tanda penghargaan dan ucapan terimakasih karena sudah membesarkan anak perempuannya dengan baik hingga akan diminang serta diperistri oleh sang lelaki pujaannya, “jelas Ibu Reba-Imbiri, saat mengantai maskawin anak laki-lakinya.

Cerita Ano’ai juga diceritakan oleh Pilipus Wainggai, pria parubaya itu menceritakan Ano’ai dalam kehidupan masyarakat Yapen Timur sangat berhubungan erat dengan keyakinan atau sebuah doa pada pencipta, menyatakan hubungannya dengan “penguasa” yang disembah, sebelum masuknya pengaruh agama seperti saat ini.

“Orang di wilayah Saireri percaya akan adanya penguasa yang melebihi kekuatan manusia biasa dan menurut mereka penguasa tersebut mendiami surga dan berada di langit. Moyang kita mengajarkan, melestarikan semua itu pada kami. Alasan moyang kita menyanyikan Ano’ai ini, karena mereka juga percaya akan adanya penguasa-penguasa yang mendiami jagad raya dan ada juga yang menghuni gua, batu besar, pohon besar, gunung tinggi, sungai lain-lainnya. Penguasa yang mendiami surga, merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan tertinggi yang mengatur alam semesta. Nah, untuk mengambil atau menerima sesuatu dari tempat-tempat tersebut dan juga berkat pencipta, maka kita perlu mengucapkan terimakasih berupa nyanyian Ano’ai. Nyanyian ini tidak menentu nadanya, bisa menyanyi sambil tepuk tangan, tepuk benda apa saja yang bisa menimbulkan bunyi dan juga tifa”, tutur Pilipus.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here