Hank Patay “Dari Awam Menjadi Terampil Sebagai Jurnalisme Warga”

0
173
Hank Patay seorang Jurnalis Warga Kabupaten Jayapura. (Foto Wirya Supriyadi/JERAT Papua)

Pada suatu kesempatan terdapat sebuah kegiatan pelatihan. Tampak seseorang pria dengan wajah penuh dengan brewok dan tangannya terdapat beberapa batu akik asik memaikan kamera video perekam. Tampak sesekali ia berpindah tempat untuk mencari sudut pandang yang tepat. 

Kamera diatas tripod merekam peristiwa kemudian tak berapa lama kemudian menghentikan rekaman video dan muli  mengambil foto moment dari kegiatan tersebut. Tak berapa lama kemudian peristiwa yang diliputnya telah beredar di sosial media. Film pendek dan foto-foto kegiatan yang menginformasikan kegiatan yang telah diliputnya . Terdapat istilah yang dikenal yakni  Jurnalis Warga.

Bagi seseorang yang baru mengenal dirinya tentu saja akan merasa canggung karena terkesan angker. Namun saat JERAT Papua menyapa pria ini ternyata munculah sebuah senyum mengembang dari wajahnya.

Hank Patai demikian nama pria yang selalu membawa kamera dan tripod adalah seorang Jurnalis Warga yang selalu setia  menginformasikan kejadian diseputar hari-harinya ke media sosial. Aktivitas yang dilakukannya biasa disebut dengan istilah Jurnalisme Warga.

Apa itu Jurnalisme Warga ? Menurut Sadikin Gani  Jurnalisme Warga atau publik atau jurnalisme partisipatif adalah partisipasi aktif warga negara dalam mengoleksi, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan berita dan informasi. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga yang informasinya berasal dari warga itu sendiri.

Perkenalan Hank Patay diawali dengan mengikut pelatihan bagi Multi Stakeholder Forum (MSF) yang memanfaatkan media sosial itu mengabar ataupun melaporkan sebuah peristiwa. “Awalnya memang pertama tidak tahu gunakan sosial media seperti facebook . Setelah dikenalkan dengan dalam pelatihan multistakeholder tentang bagaimana menyuarakan aspirasi masyarakat kepada publik akhirnya saya tertarik” jelas Hank Patay.

Pada tahun 2013 telah mendapatkan pelatihan mengenai JW.  “ Pada saat pelatihan tersebut  saya sebagai peserta diminta membut tulisan. Dan karena masih pemula, hampir 13 kali tulisan saya selalu dicoret oleh mentor saat itu. Bagi saya saat itu membosankan tapi saya harus berusaha,” tutur Hank Patay.

Sebelum mengunakan sosial media untuk menginformasikan peristiwa yang dilihatnya, Hank Patay telah terbiasa menulis puisi, cerita rakyat bahkan hingga drama. Bahkan juga mempunyai kemampuan membuat lukisam motif Papua ataupun dekorasi yang kesemua ini dipelajari secara otodidak.

Alasannya kenapa dirinya ingin menjadi JW adalah dirinya ingin menyampaikan kepada publik  tentang pelayanan kesehatan dibeberapa puskesmas. Baginya ada kepuasan tersendiri jika bisa mengabarkan sebuah peristiwa kepada publik  walau hanya dengan media sosial saja.

Kiprahnya sebagai JW  dengan bergabung dalam JW Cycloop di Setani.”Tapi kadang saya mengambil berita kesehatan Abepura. Dan ketika membuat berita masukan berita yang saya tulis ke group JW di sosial media terutama Facebook.

Dirinya sangat terbantu dalam menulis karena mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas JW. Terutama dalam membuat tulisan mengenai sektor kesehatan. Dari pengalaman itu dirinya merasa bahwa hasil dari latihan cukup menolong saya untuk berita-berita tentang pelayanan kesehatan.

Baginya membuat tulisan itu mudah tapi bikin judul itu jadi tantangan. Karena kadang telah ada judul dan tapi isinya tidak sambung dengan judul. Tapi sekrang membuat tulisan dulu lalu mengambihl kata kunci yang menarik dan memuat isi dari berita yang ditulis. Saat ini selain menulis juga ada membuat video.

Keinginan untuk belajar dengan keras baik menulis mau membuat film pendek tidak lepas dari filosopi hidup yang dipegangnya. Menurutnya filosofi hidupnya adalah “ jika saya tidak melakukan maka apa yang saya punya akan diambil dan dipercayakan kepada orang lain,” tutur Hank Patay.

Hank Patay juga menceritakan ketertarikan menekuni pembuatan kabar melalui video. Hal ini dikarenakan jika terdapat foto dan informasi yang diberikan tentu saja orang harus membacanya.” Kalau dibuatkan film pendek walau hanya 1-3 menit, publik dapat menyimak dengan baik apa yang disampaikan narasumber ataupun suasana keadaan saat peristiwa tersebut diliput” ucap pria yang dikenal dengan sebutan Hamba Tukang Ketik.

Dalam menekuni pembuatan film pendek adalah semua film dikerjakan dengan ketekunan tanpa berharap ada imbalan.  Dan selama menekuni pembuatan film pendek, dirinya telah   mendapatkan penghargaan dari sebuah TV Swasta   yakni  berupa piagam. Sekitar  5-6 film pendek yang telah diputar oleh TV Swasta tersebut. Tentu saja tidaklah mudah untuk mempunyai keterampilan mengedit video selain butuh fokus dan peralatan tapi juga ada tantangan lainnya jika film tersebut mau diupload atau dikirim. “Tantangan yang saya hadapi ketika mau upload atau kirim film pendek durasi hingga  adalah  koneksi internet yang lambat. Kalau hanya durasi 1 menit maka akanbisa dilakukan tapi jika lebih dari 3 menit tentu butuh koneksi internet  yang bagus,” ujar Hank Patay.  Beberapa film pendek yang dihasilkan ada dengan tema Pasar terapung di Danau Sentani, Persiapan Kunjungn Presiden. Jokowi saat peresmian Pasar Sentani dan Festival Danau Sentani.

Kamera yang digunakan adalah kamera yang diperoleh sebagai hadiah dari sebuah program media.
“ Ketika dilatih tahun 2013 saat itu tulisan saya sebanyak 12-13 tulisan tentang kesehatan dan saya mendapatkan reward dari PPMN berupa kamera karen tulisan saya masuk nominasi,” jelas Hank Patay sembari tersenyum.

Tentu saja bagi Hank Patay ini adalah sebuah berkat yang tidak dipikirkan sebelumnya, karena untuk menulis dan mengabarkan informasi kesehatan tidak pernah berpikir mengejar sesuatu atapun hadiah.  Adapun software yang digunakan adalah aplikasi Window Movie Maker.

Dirinya mengakui bahwa dari masyarakat biasa yang tidak paham tentang internet, photography dan membuat film pendek namun  setelah mengikuti beberapa kali pelatihan dan selalu belajar kini mulai terlihat hasil buah karyanya.”Saya ini pada awalnya orang awam untuk pakai kamera maupun bikin film namun karena saya selalu belajar dan belajar maka kini saya sudah bisa. Saya dari awam kini telah bisa hasilkan tulisan maupun film pendek. Dan semua orang bisa jadi JW ,” ucap Hank Patay  sembari memegang kamera jenis DSLR sembari memasukannya kedalam tas.

(Wirya Supriyadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here