Freeport Penyebab Pendangkalan Mimika Timur Jauh

0
411
Salah satu daratan yang terjadi karena endapan tailing di perairan Timika. Foto: Yoga Pribadi
Salah satu daratan yang terjadi karena endapan tailing di perairan Timika. Foto: Yoga Pribadi

JAYAPURA – Limbah pasir menyebabkan penyempitan muara sungai dan terjadi pendangkalan di 3 distrik Agimuga, Jita  dan Fakafuku.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Forum Peduli Masyarakat Wilayah Mimika Timur Jauh (FOPEMAWIL – MIMTIM)Adolfina Kuum, sekaligus menjelaskan, bahwa Dampak dari pembuangan limbah tailing (pasirhalus) ke sungai Atjkwa mengakibatkan Tanggul Timur Muara Wanogong dan kali Kopi menjadi dangkal dan lumpur hidup, bahkan lebar sungai mengalami penyempitan ruas oleh endapan limbah tailing pertambangan.

“Hal ini telah nyata merusak ekosistem alam di wilayah Mimika Timur Jauh (Agimuga, Jita, Fakavuku). Dan Beberapa kampung yang resah akibat tercemarnya lingkungan mereka adalah masyarakat Distrik Agimuga, masyarakat Distrik Jita dan masyarakat Fakafuku serta masyarakat Kampung Manasari dan sekitarnya,” ujar Ketua Forum Peduli Masyarakat Wilayah Mimika Timur Jauh (FOPEMAWIL – MIMTIM)Adolfina Kuum, melalui press release yang diterima, Selasa (3/5).

Dijelaskan, Tanggul Timur sebagai Jalan Utama Laut yang menghubungkan kota Timika dengan  beberapa kampung yang berada di wilayah mimika timur jauh. Dengan pendangkalan oleh tumpukan pasir halus disertai lumpur yang berlebihan telah menggangu aktivitas transportasi, perekonomian, dan perdagangan bagi masyarakat, pemerintah distrik di wilayah Mimika Timur.

“Disamping itu sangat ironis sulit bagi masyarakat untuk melintasi jalur pelayaran laut, sebab perahu motor jhonson tidak mampu melawan gelombang laut,” akuinya.

Pihaknya menilai, ada beberapa kasus – kasus yang terjadi sebelumnya, yakni serangkaian kasus tahun 2012- 2015 akibat limbah tailing di muara sungai Wanogong Kali Kopi yang mana masyarakat mengalami banyak korban baik itu materiil, waktu, tenaga bahkan nyawa pun menjadi korban.

Padatanggal 28 Desember 2012, Masyarakat yang pulang ke Agimuga untuk menikmati libur natal dan tahun baru bersama keluarga mengalami musibah perahu motor johnson terkandas dan terbalik akibatnya harta benda dan persediaan bahan makanan hari raya tenggelam di lumpur hidup limbah tailing Tanggul Timur,” kata Adolfina Kuum

Kasus Kedua, katanya, Pada tanggal 16 Januari 2013, rombongan guru dan siswa membawa persediaan peralatan sekolah ke Agimuga dengan motor Johnson (Long boat) tetapi terkandas dan terbalik di lumpur hidup Tanggul Timur.

Dijelaskan, pada tahun 2014 sampai tahun 2015 sekarang ini, sungai Ajikwa atau Tanggul Timur sudah tidak dapat dilalui oleh masyarakat dengan perahu motor tempel (Long boat) dan pendangkalan serta pengendapan limbah tailing dibuang oleh operasi tambang PT Freeport Indonesia sudah melewati pasir hitam.

“Kasus Ketiga adalah dari hasil sosialisasi kami forum yang terjung langsung kelapangan, distrik Jita dan Distrik Agimuga yaitu mulai dari tanggal 17 April sampai dengan 04 Mei 2013, mencatat bahwa Kerugian hasil bumi masyarakat distrik Jita dan Agimuga, seperti hasil tangkapan ikan segar, sayuran, buah-buahan, pisang, umbi-umbian, daging ( babi, lao-lao dan kasuari) baik hidup atau mati dan hasilnya selalu saja di buang dilautan, karena ombak yang tinggi sehingga membahayakan perahu dan nyawa manusia terancam, sehingga hanya beberapa saja yang biasa sampai di Timika untuk dijual.

Untuk itu, kami meminta PT. Freeport harus bertanggungjawab dalam masalah limbah pasir yang menyebabkan pencemaran di sungai Wanogong/Atjkwa

“Kami sebagai Anak Negeri Tanah Amungsa Bumi Kamoro melihat permasalahan ini sangat serius untuk dibicarakan, sebabnya Kami menilai pihak PT.Freeport lebih banyak mengejar keuntungan (profit) tanpa melihat dampak kerusakan ekosistem dan kerugian yang dialami masyarakat, sehingga harus ditangani serius,” pesannya.

(Eveerth Joumilena)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here