Pengalaman Suku Marap Terhadap Investasi Sawit di Keerom

0
244
Suasana nonton bersama film lingkungan sebelum mengawali diskusi di Kampung Workwana Keerom. (Foto: Harun Rumbarar/Jerat Papua)

KEEROM, Guna membangun kesadaran kritis masyarakat adat mengenai masyarakat adat.

Maka JERAT Papua berinisiatif membangun diskusi kampung yang fokus tentang kelestarian lingkungan.

Diskusi dan pemutaran film kompilasi tentang masyarakat adat di seluruh dunia. Jalannya diskusi mendapat respon positif dari berbagai kalangan Masyarakat Adat Marap, dari Kampung Workwana dari masyarakat adat dari Kampung Wana dan Kampung Sawyatami.

Inisiatif diskusi dilakukan merupakan tindak lanjut setelah Masyarakat Adat Marap melakukan reklaim tanah adat mereka yang digunakan perkebunan kelapa sawit pada tanggal 27 April 2016 lalu.

Pada Hari Minggu (01/05/2016) Jerat Papua, untuk bertemu dengan Masyarakat Adat Marap di Kampung Workwana, Kabupaten Keerom.

Perjalan dari Kota Jayapura menuju ke dua kampung tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua.

Saat tiba di Kampung Workwana disambut dengan beberapa orang tua , pemuda dan mama-mama serta pemudi dari Kampung Workwana.

Bertempat dirumah Sekretaris Kampung, Harun Rumbarar memulai kegiatan, dari perbincangan awal dengan peserta diskusi maka diskusi difokuskan kepada 3 topik yang disepakati yakni

1) Dampak Sawit terhadap Masyarakat Adat;

2) Dampak Sawit terhadap Perempuan dan Anak;

3) Apa yang telah dijanjikan perusahan kepada masyarakat adat waktu itu.

Ketiga poin tersebut, sangat mendapat respon baik oleh masyarakat adat dengan bercerita banyak tentang tindakan perusahan,tindakan pemerintah yang juga mendukung masuknya perussahan sawit milik negara yaitu PT.Perusahaan Negara (PN) II Arso dan yang terakhir adalah tindakan aparat keamanan yang juga ikut mendukung “perampasan” tanah adat milik masyarakat di Suku Marap pada waktu itu.

Sejak tahun tahun 1970 – an masyarakat adat hidup dalam kondisi yang seadanya. Masih ada penghargaan terhadap budaya dan juga penggunaan bahasa daerah yang masih kental dikalangan masyarakat adat.

Namun sejak beroperasinya perkebunan kelapa sawait membawa dapat perubahan sosial budaya masyarakat adat.

Seorang tokoh pemudi bernama Dominika Tafor menjelaskan bahwa sawit telah “membunuh dan merusak” budaya dan tatanan adat mereka. Bahkan janji –janji juga tidak ditepati.

Dari janji perusahaan yang akan memberikan bantuan beasiswa ternyata tinggal janji saja tidak ada realisasi. ”Selama saya kuliah, bukan uang sawit biaya saya kuliaah, tapi mama saya jualan baru saya bisa kulai sampai selesai, itu berarti sawit tidak mampu membuat kami anak asli Keerom menggapai mimpi kami, semua bohong belaka,” tukas Dominika Tafor.

Moses Fatagur Sekertaris Kampung Workwana mengatakan tanah sangat penting bagi anak cucu dimasa akan datang. ”Kalau kita jual tanah, kita punya anak cucu mau tinggal dimana.? Kita tidak bisa kasih tanah adat ke pemerintah begitu saja,” ucap Moses Fatagur.

Hutan bagi masyarakat adat Marap sangat berarti dalam hubungannya antara manusia dengan alamnya dan manusia dengan spritual yang terbangung sejak jaman nenek moyang dahulu. Inno Fatagur, tokoh pemuda mengatakan tanah itu ada tersimpan hutan dan adat.

“Kami punya Yonggua (kepecayaan) dan kalau hutan kami hilang maka Yonggua juga akan hilang,” ujar Inno Fatagur

Seorang peserta bernama Zakariaz Fatagur, pemuda kampung Wor yang juga mahasiswa di Universitas Cenderawasih menjelaskan bahwa masyarakat adat tidak cocok dalam mengelola perkebunan kelapa sawit.

Karena sejak dahulu kala tidak pernah orang tua atau monyang mereka tanam kelapa sawit. Kalau kita melihat konteks budaya sawit ini tidak termasuk dalam tataan budaya kami di Keerom sini jelas Zakarias Fatagur.

Suasana nonton bersama film lingkungan sebelum mengawali diskusi di Kampung Workwana Keerom. (Foto: Harun Rumbarar/Jerat Papua)
Suasana nonton bersama film lingkungan sebelum mengawali diskusi di Kampung Workwana Keerom. (Foto: Harun Rumbarar/Jerat Papua)

“Tanah ada ada tapi tidak ada hutan berarti kita sudah kehilangan budaya, tanah adat jika hutannya hilang itu tandanya kita sudah tidak bisa berbuat banyak utuk selamatkan budaya kami,” tandas Zakarias Fatagur.

Dalam sela-sela diskusi, seorang peserta diskusi bernama Ulis Antaribaba, Pos Kontak Elsham Papua, mengatakan bahwa tanah adat adalah mama.

“Jika tanah itu rusak semua maka kita sudah tidak bisa hidup dengan baik di atas tanah kami sendiri,” ujar Ulis dengan nada bergetar.

Diskusi yang dilakukan di rumah Sekretaris Kampung Workwana dihadiri oleh para tokoh kampung baik perempuan dan laki-laki bahkan anak-anak.

Selain diskusi juga dilakukan pemutaran film-film dokumenter tentang masyarakat adat.

(Wirya Supriyadi/Harun Rumbarar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here