“ BHUKERE “ Tradisi Menangkap Ikan Tradisional Suku Bhuyakha Sentani yang Harus di Lestarikan

0
210
Salah satu pemudah Adat di Kampung Hebhaebulu Yoka yang sedang memanen ikan di Bhukere menggunakan Alat Tradisional Asli Suku Sentani
Salah satu pemudah Adat di Kampung Hebhaebulu Yoka yang sedang memanen ikan di Bhukere menggunakan Alat Tradisional Asli Suku Sentani "Khonim Alona "' ( Foto : Nesta Makuba )

JAYAPURA , JERAT PAPUA  – “Bhukere “  atau  sero-sero merupakan alat tradisional sarang/penangkapan ikan oleh masyarakat Sentani. “Bhuyakha “ yang di gunakan oleh Masyarakat dalam memeriahkan tradisi menyambut Tahun baru , serta Hut Kampung Yoka yang ke 65 Tahun 2021.

Bhukere atau sero-sero merupakan alat tradisional sarang/penangkapan ikan oleh masyarakat Sentani. “Bhuyakha “ Bhukere terbuat dari kayu pilihan yang tahan lama seperti kayu suang dan olulu yang didapatkan dari kebun maupun lahan masyarakat.

Bhukere di buat oleh masyarakat, kepala suku, Ondoafi di wilayah hak ulayat yang di miliki.

Pembuatan Bhukere bagi masyarakat sentani, mempunyai nilai yang tinggi seperti membangun rumah masyarakat adat.

Pembuatan Bhukere di awali dengan peninjauan lokasi dan penempatan Bhukere yang di anggap banyak ikannya.  Pembuatan Bhukere biasanya lakukan oleh tiga dan bila secara berkelompok sampai dengan sepuluh orang, awalnya dengan cara menyiapkan kayu yang sesuai dengan kebutuhan, di potong-potong di buat seperti melingkar seperti pagar, lalu di taruh dahan maupun ranting untuk mengundang ikan datang.

Pada zaman dulu untuk mendapatkan ikan yang banyak, selesai membuat Bhukere, di lakukan ritual khusus, untuk mamanggil ikan oleh orang-orang khusus yang mempunyai kemampuan yang sudah di patenkan oleh masyarakat maupun marga dari komunitas adat.

Dengan cara ondoafi mendatangi orang yang mempunyai kemampuan itu, biasanya disebut Kabulo.

Untuk mendapatkan ikan yang banyak di Bhukere, selain di lakukan ritual juga ada pantangan bagi si pemanggil ikan,

Ondofolo Kampung Hebhaebulu Yoka Titus Momoi Mebri mengatakan , tradisi yang semakin punah ini , dulunya di gunakan oleh Ondofolo untuk keperluan-keperluan acara besar dalam sebuah kampung, terutama acara adat, ulang tahun Kampung dan kegiatan pembangunan rumah adat serta peresmiannya, dan Pelantikan Ondofolo “ ini salah satu tradisi khusus di Yoka hari-hari besar seperti acara Hut kampung, sehingga kearifan lokal yang di gali dalam moment HUT Kampung kemarin penting skali untuk di lestarikan “ katanya .

Pemudah Yoka saat mengecek Ikan di dalam sarang Bhukere,, foto nesta makuba

Sehingga Ondofolo Kampung Hebhaibulu Yoka ini mengajak seluruh generasi Bhuya di danau sentani untuk menjaga tradisi tersebut agar tidak hilang termakan waktu .

Tatacara memanen ikan di “ Bhukere”  atau sarang  juga di anjurkan  untuk tidak memakan beberapa jenis ikan yang di larang sesuai ketentuan adat.

Waktu panen ikan di Bhukere, dapat di lihat dari isyarat alam, seperti mulainya berseminya daun-daun tumbuhan di sekitar,

banyaknya ikan heuw (ikan asli danau Sentani) di daerah danau dan dapat di lihat dari perjalanan matahari menunjukan kearah selatan.

Perempuan Sentani juga di libatkan dalam Proses Panen Ikan di Dalam “Bhukere ” Sarang Ikan Tradisional ini  , foto ,Nesta Makuba

Max Olua Ketua Panitia Hut Kampung Yoka ke 65 menambahkan , kegiatan ini sebeanranya di maksudkan dalam rangkain kegiatan HUT Kampung Yoka , teman-teman coba mengangkat nilai-nilai kearifan lokal orang sentani ,kearifan ini adalah warisan nenek moyang Budaya leluhur yang coba di angkat lewat kemasan ini “ kami panitia melihat bahwa warisan budaya dari para pendahulu mulai punah terkikis jaman , sehingga kami coba mengkreasikan agar itu di angkat dan semangat itu bisa di lihat dan di saksikan  oleh generasi sekarang  bahwa ini adalah budaya dan tradisi kita “ tambahnya jumat, 29 Januari 2021.

Proses panen dan hasil Panen Ikan di isi ke dalam Perahu Penunggu , ; foto nesta makuba

Keberadaan Bhukere merupakan salah satu bukti nyata keberadaan budaya yang mempunyai nilai tersendiri bagi komunitas masyarakat adat sentani dan sebagai kekayaan khazanah budaya bangsa yang patut dilestarikan demi kehidupan kedepan.(nesta/agts)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here