Surat untuk Presiden, Dari Guru di SD Sambrawai Serui Papua

0
511
siswa kelas 1 SD YPK Sambrawai
siswa kelas 1 SD YPK Sambrawai

Pak Presiden, Sepatu Sa Mana ?

” Mana ko pu sepatu ? ,” kataku pada Alex Abon, siswa kelas 1 SD YPK Sambrawai, tempatku mengajar saat ini.
”Kosong, Pak guru. Mama trada duit” jawabnya singkat sembari menggelengkan kepala dan membuka kedua tangannya.
”Trapapa, tarada sepatu. Tapi, ko harus pu semangat sekolah e,” jawabku singkat sembari tersenyum padanya.
”Iiyo, Pak guru, sa salalu semangat sekolah e,” timpalnya.

Siswa kelas 1 SD YPK Sambrawai
Siswa kelas 1 SD YPK Sambrawai

Membuka hari di Kampung Sambrawai Distrik Yapen Utara Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua seperti membuka lembar demi lembar dalam sebuah buku yang lusuh. Perlu alat dan daya agar ia seperti buku yang dipajang di toko buku ternama di kota-kota besar. Guru-guru di sana kini tengah berjuang merapihkan satu per satu lembar-lembar itu. Dan, Indonesia Mengajar turut membantu tugas mulia itu.

Hari pertama masuk sekolah aku disambut dengan gelak tawa para siswa yang tengah berkumpul di halaman sekolah. Wajah mereka tersenyum manis. Tampak warna kemerahan bekas mengunyah sirih pinang pada bibir dan gigi mereka. Beberapa diantara mereka ada yang tertawa lebar seperti mencari perhatian padaku. Ada juga yang menelungkupkan kedua telapak tangannya ke mulut mungil mereka.

13393936_1009366199159000_5718008055878174647_n

Lonceng berbunyi tanda pelajaran hendak dimulai. Sebelum masuk kelas, kepala sekolah membariskan para siswa di halaman sekolah. Mereka berbaris sesuai dengan kelas masing-masing. Ada pemandangan yang berbeda menurutku. Aku hanya membatin, “Ini beneran ya, anak-anak tidak bersepatu saat bersekolah?”. Yang bersepatu bisa dihitung dengan jari. Entah perasaan apa yang kurasakan saat itu. Antara sedih, kasihan dan kecewa.

Bumi Papua yang kaya raya nyatanya tak dinikmati seutuhnya oleh anak-anak Sambrawai. Mereka tidak memakai sepatu lantaran keterbatasan hidup yang mendera ekonomi keluarga. Sehingga ke sekolah dengan bertelanjang kaki atau hanya memakai sandal jepit itu hal yang biasa dan tak perlu dirisaukan. Lamunanku tertuju pada anak-anak di desaku tinggal, saat sepatu mereka robek sedikit saja minta belikan yang baru. Sedangkan, banyak diantara mereka yang tak memakai sepatu hingga menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya.

Aku tak tahu pasti apa yang dirasakan oleh anak-anak manis itu. Hanya yang kutahu mereka begitu menikmati hari-harinya di sekolah. Bermain bebas di halaman luas yang banyak di kelilingi pohon pinang. Sementara gunung-gunung tampak berdiri megah di depan sana. Atau, sekedar melepas penat saat jam istirahat di bibir pantai yang terletak persis di belakang sekolah. Saling berkejaran di atas pasir, tanpa melepas alas kaki. Hingga tak ada dalam benak mereka untuk memiliki sepatu. Apalagi meminta pada pemimpin negara mereka.

“Pak Presiden, sepatu sa mana ?”.

Sambrawai, 9 Juni 2016 / 4 Ramadhan 1437 H

Tri Sujarwo Songha (Guru Indonesia Mengajar)

Translate :
Mana ko pu sepatu artinya Sepatumu mana ?
Kosong, Pak guru. Mama trada duit artinya Tidak ada, Pak guru. Mama tidak punya uang.
Trapapa, tarada sepatu. Tapi, ko harus pu semangat sekolah e artinya Tidak apa-apa, tidak punya sepatu. Tapi, kamu harus tetap semangat sekolah ya.
Iiyo, Pak guru, sa salalu semangat sekolah e artinya Iya, pak guru, saya selalu semangat sekolah.
Pak Presiden, sepatu sa mana artinya Pak Presiden, sepatu saya mana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here